Salam untuk para pembaca (dan untuk
yang tidak membaca) dari penulis dan dari teman kesayangan penulis alias saya
dan teman kesayangan saya. Sebelum lanjut membaca tulisan ini, ada baiknya kita
berkenalan, untuk menambah koneksi pertemanan. Barangkali kamu dapat menjadi
temn kesayangan saya yang lain. Nama saya Felicia Iona Roselyn, Iona, dengan
huruf i, bukan l. Teman kesayangan saya, yang tidak bisa hadir hari ini,
bernama diri sendiri, panggilannya
diri. Kalian tentunya juga memiliki teman yang saya yakin bernama diri sendiri.
Saya dan teman diri sendiri kini menempuh jenjang perkuliahan di Universitas
Brawijaya Malang, jurusan Hubungan Internasional. Pada ksempatan ini, saya akan
menceritakan bagaimana saya dapat mencintai dan menghargai sosok yang bernama
Felicia Iona Roselyn. Salam kenal dan salam jumpa dari saya dan diri sendiri,
meskipun kita hanya bertemu melalui tulisan, semoga melalui tulisan ini, kalian
juga dapat menyayangi teman-teman dekat kalian.
Penghargaan. Apa yang ada dalam pikiran setelah mendengar kata ini? Pujian, prestasi, pengakuan. Kata ini bermakna positif. Namun, apakah kita sudah memberikan penghargaan terhadap diri sendiri. Penghargaan yang dimaksud bukanlah semata-mata rasa bangga dan puas setelah sukses atau berhasil setelah melakukan sesuatu. Kata penghargaan yang dimaksud adalah rasa cinta dan menghargai diri sendiri. Karena rasa cinta akan diri sendiri yang tidak berlebihan merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Rasa cinta dan penghargaan yang berlebihan hanya akan memunculkan keegoisan dan rasa self-centered, menganggap diri sendiri paling baik.
Rasa cinta atau bangga pada diri sendiri tidak bisa langsung muncul begitu saja. Perlu dilakukan pembiasaan diri secara bertahap. Topik inilah yang akan saya bahas dalam tulisan ini. Pembicaraan yang sensitif tapi hangat, terutama di kalangan para remaja. Bagaimana cara saya akhirnya dapat mencintai dan menghargai diri sendiri meskipun masih perlu belajar lagi. Ada beberapa langkah yang saya lakukan, antara lain berbicara kepada diri sendiri, berusaha menghadapi diri dengan tenang, melakukan hal-hal positif yang saya sukai, dan melakukan refleksi serta memaafkan diri sendiri. Bukan berarti cara-cara lain tidak valid atau realistis, hanya saja cara-cara yang saya lakukan ini berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah menjadi guru saya.
Berbicara pada diri sendiri bukan berarti bahwa saya seorang yang sangat jenius dan brilian, bukan juga berarti saya gila. Saya sering berkomunikasi dengan diri sendiri untuk meyemangati diri saya dan ketika dalam menghadapi pilihan yang sulit. Saat saya merasa rendah diri, saya berbicara pada diri saya dengan cara menyemangati diri saya dengan kalimat-kalimat seperti, “Bodo amat Iona, kamu keren,” ketika saya merasa melakukan hal yang agak melakukan dan baru bagi saya serta diri saya memberikan alasan-alasan yang logis bahwa hal yang saya lakukan tidak seburuk yang saya kira. Kalimat lain sebagai contoh, “Cantik nggak diihat dari luar aja,” saat merasa penampilan atau appearance saya kurang menarik. Terkadang, “Kamu bukan orang lain,” atau “Ini ceritamu, kamu tokoh utamanya, bukan orang lain.” Saya menemukan berbicara secara positif kepada diri sendiri menimbulkan kesan yang positif pula pada diri. Yang perlu diperhatikan, ialah jangan memuju diri terlalu berlebihan agar tidak menjadi seseorang yang narsistik maupun self-centered.
Ketenangan tidak dapat secara langsung dimiliki seseorang. Perlu adanya pembelajaran seumur hidup. Percayalah, saya juga masih dalam tahap pembelajaran untuk tips kedua ini. Tetapi, saya pernah merasa sangat tenang dalam beberapa hari ketika saya duduk di bangku kelas 2 SMA. Dalam beberapa hari itu, ketika teman-teman bertindak dalam lonjakan-lonjakan emosi atau perasaan yang sangat ribut menurut pandangan saya, seperti roller coaster. Saya bertindak seperti air yang tenang, still water. Saya menghadapi dan menanggapi teman-teman dengan hati yang sangat tenang. Saya tidak marah pada siapa pun, dan saya merasakan ketenangan yang hakiki. Awalnya saya merasa sedikit aneh dengan perubahan ini karena masih benar-benar baru bagi saya. Sayangnya, hal ini hanya berlangsung selama beberapa hari. Intinya, percayalah, kalau kita melakukan segala sesuatu dengan kepala dingin, kita dapat menghindari overthinking dan menyalahkan diri sendiri. Dengan bersikap tenang, kita dapat berpikir secara rasional dan tidak menyalahkan diri atas apa yang tidak kita perbuat atau melebih-lebihkan fakta.
Saya memiliki hobi menonton film dan, sejujurnya, berkhayal tentang dunia-dunia fantasi yang tidak pernah kita lihat sambil mendengarkan music-musik atau lagi-lagu favorit saya. Dengan menonton film bergenre favorit saya seperti fantasi, petualangan, dan sci-fi atau science fiction saya melepaskan hormon positif dan adrenalin ketika jantung saya berdetak kencang melihat hal-hal yang saya suka. Dengan membayangkan dunia khayalan, saya mengasah kemampuan visual saya sambil melepaskan hormon positif. Kedua hobi ini merupakan salah satu bagian dari me time. Saya sadar, ketika saya melakukan kedua hal ini, terutama setelah menonton film, saya terpacu untuk mewujudkan atau mengoptimalkan diri saya menjadi versi ‘saya’ yang terbaik.
Langkah terakhir, yaitu refleksi diri dan proses memaafkan diri. Kedua proses ini tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Jika kita melakukan refleksi namun kesimpulan akhirnya menyalahkan diri, akan menimbulkan efek buruk bagi diri sendiri. Sedangkan jika kita memaafkan diri tanpa merefleksikan tindakan atau kesalahan yang telah dilakukan, kita bisa jadi jatuh ke dalam kesalahan yang sama di masa mendatang. Orang yang sudah melakukan kedua hal ini saja masih bisa jatuh dalam kesalahan yang sama, apalagi orang yang tidak melakukan keduanya?
Bagian yang menurut saya secara pribadi menjadi agak susah, ialah memaafkan diri. Saya adalah pribadi yang tegas, sehingga melakukan kesalahan yang sama setelah refleksi dan memaafkan diri sendiri merupakan hal yang tidak baik dan patut dihukum. Namun perlahan-lahan, melalui bimbingan dari orang tua, saya sadar, bahwa kita tidak bisa memperlakukan diri kita seperti itu. Kita mengalami trial and error masing-masing dengan pegalaman buruk yang tentunya tidak langsung berhasil sekali jadi. Perlu adanya kekuatan hati, memiliki hati sekuat baja ternyata sangat penting. Bukan hanya sabar terhadap orang lain dan keadaan, namun diri sendiri. Setiap trial and error memiliki peranan masing-masing untuk mengisi bata-bata kosong pondasi diri kita.
Saya sudah menyebutkan banyak
langkah untuk mencintai dan menghargai diri sendiri. Tetapi pada kenyataannya,
semua berbalik pada diri masing-masing. Karena yang menentukan diri sendiri
untuk mulai mencintai diri sendiri, menghargai diri sendiri adalah diri kita
sendiri. Kita hidup menulis kisah kita sendiri, kita adalah pahlawan dari
cerita kita masing-masing. Orang lain hanya membantu kita untuk menyadarkan dan
memperingati kita. Bagaimana bisa kita ingin mencintai diri sendiri, kalau
tidak dimulai dari diri sendiri?
0 comments:
Post a Comment