Saturday, October 10, 2020

PANDEMI, SOCIAL MEDIA DAN GEN Z

Mental health ialah kondisi atau keadaan di mana setiap individu menyadari potensinya sendiri, dapat mengatasi tekanan hidup, dapat bekerja secara produktif, serta mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya (WHO). Kesehatan mental ini tidak semata-mata hanya tentang mental disorder namun sebagai suatu hal yang dimiliki semua orang dan sama pentingnya dengan kesehatan fisik atau jasmani. Dalam tulisan ini, saya akan membahas pentingnya mental health di masa sekarang, terutama bagi Generation Z yang diikuti dengan bagaimana solusi maupun tips-tips untuk menjaga mental health.

Tahun 2020 adalah tahun yang penuh dengan kejutan dan yang terbesar ialah Pandemi Covid-19. Rasa khawatir dan takut akan kondisi saat ini merupakan respon yang sangat wajar dan dimengerti. Berdasarkan Business Insider, pandemi ini sangat berpengaruh pada kondisi mental health Gen Z menurut beberapa studi. Gen Z saat ini berhadapan dengan stres, kekhawatiran, dan depresi bahkan sebelum global health crisis karena dalam beberapa waktu terakhir, banyak berita yang sangat mengejutkan, berita penembakan masal, deportasi, dan meningkatnya kasus bunuh diri.

Saya sempat menyinggung tentang Generation Z dan masa sekarang (2020) pada paragraf pertama. Ada baiknya, sebelum melanjutkan pembahasan, ada baiknya jika kita mengenal siapa saja yang termasuk Genreation Z dan apa saja karakteristik generasi tersebut, serta kondisi seperti apa yang sedang dialami pada tahun 2020. Dilansir pada laman Pew Research Center, Generation Z hanyalah salah satu golongan dari beberapa generasi lainnya. Generasi lainnya ialah generasi-generasi sebelum Generasi Z. Mereka ialah millennials (usia 24-39) yang lahir setelah Great Recession, generation X (usia 40-55), baby boomer (usia 56-74), dan silent generation (usia 75-92). Tapi dalam esai ini, saya tidak berfokus pada keempat generasi tersebut. Generation Z sendiri merupakan generasi yang lahir di atas tahun 1996. Pada tahun silam, generasi Z ini sedang dalam masa pendewasaan.

Generasi Z cukup mirip dengan generasi sebelumnya, generasi milenial. Hanya saja, generasi Z lahir dalam masa teknologi dan ilmu pengetahuan yang jauh lebih berkembang dibandingkan millennials. Selain itu, generasi Z merupakan generasi yang paling beragam dalam etnik dan ras serta generasi yang akan menjadi generasi paling terdidik. Generasi ini juga dapat dibilang generasi yang sangat ekspresif. Kaum Z juga melihat keluarga dan perubahan sosial sebagai hal yang baik.

Generasi Z dalam hal teknologi menjadi generasi yang hampir selalu aktif di social media. Beberapa peneliti dari Pew Research Center menyatakan bahwa dengan meningkatnya jumlah waktu yang dihabiskan generasi Z (masih menginjak masa remaja) khususnya di media sosial, berperan dalam pertumbuhan kecemasan dan depresi. Apalagi didukung dengan pandangan kaum Z yang beragam tentang efek positif dan negatif media sosial bagi generasi mereka. Sebagian menyatakan social media berpengaruh positif, ada mengatakan social media berpengaruh negatif, dan sebagian besar mengatakan media sosial tidak positif atau negatif.

Seperti yang sudah dijelaskan pada paragraf awal, generasi Z seringkali menghabiskan waktu dengan social media tanpa mengetahui dampak-dampak maupun apakah social media ini membawa dampak yang positif dan negatif bagi kehidupan mereka. Apalagi di masa pandemi ini, remaja-remaja akan lebih sering menggunakan smartphone dan media sosial dikarenakan kurangnya interaksi sosial secara langsung. Seringkali, remaja yang menggunakan media sosial merasa kurang puas dengan penampilan mereka, mengingat media sosial seringkali menyoroti hal sensitif ini. Rasa kurang puas ini jika tidak diatasi akan mengakibatkan rasa iri ketika menscroll akun sosial media yang bahkan dilakukan hampir setiap waktu! Bukankah hal ini menjadi toxic? Media sosial yang seharusnya menjadi tempat menambah koneksi dan mencari inspirasi menjadi ajang pamer penampilan di mana semua orang merasa iri terhadap penampilan orang lain.

Hal lain yang menjadi efek social media yaitu FOMO atau Fear of Mising Out menjadi salah satu masalah mental baru yang terjadi di kalangan remaja Z. Mereka merasa takut ketinggalan akan sesuatu yang menyenangkan. FOMO juga menimbulkan perasaan bahwa orang lain lebih memiliki hidup yang menyenangkan atau menjalani kehidupan yang lebih baik dibandingkan diri mereka. Padahal mereka tidak tahu kenyataannya. Perasaan ini dapat menimbulkan kecemasan dan berpengaruh pada rasa percaya diri seseorang serta memicu seseorang untuk menghabiskan lebih banyak waktu menggunakan media sosial. Sesungguhnya, semakin seseorang memprioritaskan interaksi media sosial, semakin beresiko seseorang tersebut memperburuk mood yang dapat mengakibatkan kecemasan dan depresi.

Mental health merupakan salah satu aspek kehidupan yang sangat penting. Pertanyaannya adalah, mengapa itu bisa begitu penting? Jawabannya, kondisi mental mempengaruhi kesehatan fisik. Lebih dari itu, kesehatan mental mempengaruhi SEMUA aspek kehidupan seseorang. Pikiran dan tubuh merupakan satu kesatuan. Jika kondisi mental seseorang sedang drop imun tubuh juga terkena imbasnya. Sebagai contoh, stres dan rasa kecemasan (rasa cemas berlebih) yang pada saat ini banyak dialami oleh Generasi Z, dapat mengganggu kesehatan fisik. Rasa khawatir memicu tubuh melepaskan hormone stres yang mempercepat detak jantung dan pernapasan, meningkatkan gula darah, serta mengirim lebih banyak darah ke bagian lengan dan kaki. Sejalan dengna waktu, kondisi ini dapat mempengaruhi kinerja jantung, pembuluh darah, otot, dan sistem tubuh lainnya.

Rasa malu atau rendah diri dapat mengganggu kesehatan mental. Saat kita merasa malu pada diri kita sendiri, kita merasa tidak normal atau rusak. Hal ini dapat memengaruhi kemampuan kita dalam mengatasi rasa kepercayaan diri atau ketika kita memandang rendah diri sendiri. Rasa malu ini dapat menimbulkan perilaku yang merusak dan pada akhirnya melahirkan kemunduran diri.

Kondisi mental yang kurang sehat dapat mempengaruhi perilaku kita dalam beraktivitas sehari-hari. Mulai dari kepercayaan diri, kontrol diri, rasa tangguh (atau tabah) dan mampu mengatasi masalah atau tantangan, perasaan yang baik terhadap diri sendiri, mengontrol dan mengekspresikan perasaan, serta membangun dan menjaga hubungan yang baik dengan orang lain.

Muncul pertanyaan baru lagi setelah mengetahui dampak media sosial dan pandemi pada remaja terkait dengan pentingnya kesehatan mental. Bagaimana generasi Z menjaga kesehatan mentalnya di tahun 2020, masa pandemi dan remaja sering bersosial media?

Beberapa cara yang dapat membantu mengurangi rasa stres di masa ini antara lain, beristirahatlah dari menonton, membaca ataupun mendengar berita tentang kasus pandemi karena hal ini dapat membangkitkan rasa kecewa dan cemas. Menjaga kesehatan maupun kebersihan tubuh dengan cara berolahraga, mandi, tidur, serta makan teratur menjadi salah satu cara yang tepat. Cobalah berinteraksi ataupun mengobrol dan berbagi cerita dengan teman-teman, hal ini dapat meringankan stres dan beban yang dialami. Selain berkomunikasi dengan teman, beribadah juga merupakan hal yang sangat vital. Selanjutnya, lakukan hal-hal yang disukai untuk melepaskan beban pikiran atau stress serta lawanlah stigma-stigma yang ada dan speak up, bahwa mental disorder perlu ditangani. Bagaimana orang lain bisa membantu kalau penderita sendiri tidak speak up. Terakhir, syukurilah dan sayangi diri sendiri. Siapa yang dapat menyayangi dan menghargai diri sendiri dengan penuh, dengan thoroughly kalau tidak dimulai dari diri sendiri.

Mental health sangat berperan penting dalam hidup dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan jasmani. Generasi Z yang sangat lekat dengan media sosial terutama di masa pandemi ini, perlu memperhatikan kesehatan mentalnya. Beberapa cara untuk menjaga mental health antara lain menjaga kesehatan dan kebersihan tubuh, menjaga komunikasi dengan teman-teman, beribadah, dan melakukan aktivitas-aktivitas sesuai minat dan bakat. Mental health penting, kita semua tahu itu. Tapi siapa yang tahu kondisi mental kita masing-masing? Hanya diri kita seorang. You and your feelings are real, speak up! Kamu pantas didengar!


Share:

Friday, October 9, 2020

Saya dan Diri

Salam untuk para pembaca (dan untuk yang tidak membaca) dari penulis dan dari teman kesayangan penulis alias saya dan teman kesayangan saya. Sebelum lanjut membaca tulisan ini, ada baiknya kita berkenalan, untuk menambah koneksi pertemanan. Barangkali kamu dapat menjadi temn kesayangan saya yang lain. Nama saya Felicia Iona Roselyn, Iona, dengan huruf i, bukan l. Teman kesayangan saya, yang tidak bisa hadir hari ini, bernama diri sendiri, panggilannya diri. Kalian tentunya juga memiliki teman yang saya yakin bernama diri sendiri. Saya dan teman diri sendiri kini menempuh jenjang perkuliahan di Universitas Brawijaya Malang, jurusan Hubungan Internasional. Pada ksempatan ini, saya akan menceritakan bagaimana saya dapat mencintai dan menghargai sosok yang bernama Felicia Iona Roselyn. Salam kenal dan salam jumpa dari saya dan diri sendiri, meskipun kita hanya bertemu melalui tulisan, semoga melalui tulisan ini, kalian juga dapat menyayangi teman-teman dekat kalian.

Penghargaan. Apa yang ada dalam pikiran setelah mendengar kata ini? Pujian, prestasi, pengakuan. Kata ini bermakna positif. Namun, apakah kita sudah memberikan penghargaan terhadap diri sendiri. Penghargaan yang dimaksud bukanlah semata-mata rasa bangga dan puas setelah sukses atau berhasil setelah melakukan sesuatu. Kata penghargaan yang dimaksud adalah rasa cinta dan menghargai diri sendiri. Karena rasa cinta akan diri sendiri yang tidak berlebihan merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Rasa cinta dan penghargaan yang berlebihan hanya akan memunculkan keegoisan dan rasa self-centered, menganggap diri sendiri paling baik.

Rasa cinta atau bangga pada diri sendiri tidak bisa langsung muncul begitu saja. Perlu dilakukan pembiasaan diri secara bertahap. Topik inilah yang akan saya bahas dalam tulisan ini. Pembicaraan yang sensitif tapi hangat, terutama di kalangan para remaja. Bagaimana cara saya akhirnya dapat mencintai dan menghargai diri sendiri meskipun masih perlu belajar lagi. Ada beberapa langkah yang saya lakukan, antara lain berbicara kepada diri sendiri, berusaha menghadapi diri dengan tenang, melakukan hal-hal positif yang saya sukai, dan melakukan refleksi serta memaafkan diri sendiri. Bukan berarti cara-cara lain tidak valid atau realistis, hanya saja cara-cara yang saya lakukan ini berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah menjadi guru saya.

Berbicara pada diri sendiri bukan berarti bahwa saya seorang yang sangat jenius dan brilian, bukan juga berarti saya gila. Saya sering berkomunikasi dengan diri sendiri untuk meyemangati diri saya dan ketika dalam menghadapi pilihan yang sulit. Saat saya merasa rendah diri, saya berbicara pada diri saya dengan cara menyemangati diri saya dengan kalimat-kalimat seperti, “Bodo amat Iona, kamu keren,” ketika saya merasa melakukan hal yang agak melakukan dan baru bagi saya serta diri saya memberikan alasan-alasan yang logis bahwa hal yang saya lakukan tidak seburuk yang saya kira. Kalimat lain sebagai contoh, “Cantik nggak diihat dari luar aja,” saat merasa penampilan atau appearance saya kurang menarik. Terkadang, “Kamu bukan orang lain,” atau “Ini ceritamu, kamu tokoh utamanya, bukan orang lain.” Saya menemukan berbicara secara positif kepada diri sendiri menimbulkan kesan yang positif pula pada diri. Yang perlu diperhatikan, ialah jangan memuju diri terlalu berlebihan agar tidak menjadi seseorang yang narsistik maupun self-centered.

Ketenangan tidak dapat secara langsung dimiliki seseorang. Perlu adanya pembelajaran seumur hidup. Percayalah, saya juga masih dalam tahap pembelajaran untuk tips kedua ini. Tetapi, saya pernah merasa sangat tenang dalam beberapa hari ketika saya duduk di bangku kelas 2 SMA. Dalam beberapa hari itu, ketika teman-teman bertindak dalam lonjakan-lonjakan emosi atau perasaan yang sangat ribut menurut pandangan saya, seperti roller coaster. Saya bertindak seperti air yang tenang, still water. Saya menghadapi dan menanggapi teman-teman dengan hati yang sangat tenang. Saya tidak marah pada siapa pun, dan saya merasakan ketenangan yang hakiki. Awalnya saya merasa sedikit aneh dengan perubahan ini karena masih benar-benar baru bagi saya. Sayangnya, hal ini hanya berlangsung selama beberapa hari. Intinya, percayalah, kalau kita melakukan segala sesuatu dengan kepala dingin, kita dapat menghindari overthinking dan menyalahkan diri sendiri. Dengan bersikap tenang, kita dapat berpikir secara rasional dan tidak menyalahkan diri atas apa yang tidak kita perbuat atau melebih-lebihkan fakta.

Saya memiliki hobi menonton film dan, sejujurnya, berkhayal tentang dunia-dunia fantasi yang tidak pernah kita lihat sambil mendengarkan music-musik atau lagi-lagu favorit saya. Dengan menonton film bergenre favorit saya seperti fantasi, petualangan, dan sci-fi atau science fiction saya melepaskan hormon positif dan adrenalin ketika jantung saya berdetak kencang melihat hal-hal yang saya suka. Dengan membayangkan dunia khayalan, saya mengasah kemampuan visual saya sambil melepaskan hormon positif. Kedua hobi ini merupakan salah satu bagian dari me time. Saya sadar, ketika saya melakukan kedua hal ini, terutama setelah menonton film, saya terpacu untuk mewujudkan atau mengoptimalkan diri saya menjadi versi ‘saya’ yang terbaik.

Langkah terakhir, yaitu refleksi diri dan proses memaafkan diri. Kedua proses ini tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Jika kita melakukan refleksi namun kesimpulan akhirnya menyalahkan diri, akan menimbulkan efek buruk bagi diri sendiri. Sedangkan jika kita memaafkan diri tanpa merefleksikan tindakan atau kesalahan yang telah dilakukan, kita bisa jadi jatuh ke dalam kesalahan yang sama di masa mendatang. Orang yang sudah melakukan kedua hal ini saja masih bisa jatuh dalam kesalahan yang sama, apalagi orang yang tidak melakukan keduanya?

Bagian yang menurut saya secara pribadi menjadi agak susah, ialah memaafkan diri. Saya adalah pribadi yang tegas, sehingga melakukan kesalahan yang sama setelah refleksi dan memaafkan diri sendiri merupakan hal yang tidak baik dan patut dihukum. Namun perlahan-lahan, melalui bimbingan dari orang tua, saya sadar, bahwa kita tidak bisa memperlakukan diri kita seperti itu. Kita mengalami trial and error masing-masing dengan pegalaman buruk yang tentunya tidak langsung berhasil sekali jadi. Perlu adanya kekuatan hati, memiliki hati sekuat baja ternyata sangat penting. Bukan hanya sabar terhadap orang lain dan keadaan, namun diri sendiri. Setiap trial and error memiliki peranan masing-masing untuk mengisi bata-bata kosong pondasi diri kita.

Saya sudah menyebutkan banyak langkah untuk mencintai dan menghargai diri sendiri. Tetapi pada kenyataannya, semua berbalik pada diri masing-masing. Karena yang menentukan diri sendiri untuk mulai mencintai diri sendiri, menghargai diri sendiri adalah diri kita sendiri. Kita hidup menulis kisah kita sendiri, kita adalah pahlawan dari cerita kita masing-masing. Orang lain hanya membantu kita untuk menyadarkan dan memperingati kita. Bagaimana bisa kita ingin mencintai diri sendiri, kalau tidak dimulai dari diri sendiri?



 ❤ ❤ 

Share: