Mental health ialah kondisi
atau keadaan di mana setiap individu menyadari potensinya sendiri, dapat
mengatasi tekanan hidup, dapat bekerja secara produktif, serta mampu memberikan
kontribusi kepada komunitasnya (WHO). Kesehatan mental ini tidak semata-mata
hanya tentang mental disorder namun
sebagai suatu hal yang dimiliki semua orang dan sama pentingnya dengan
kesehatan fisik atau jasmani. Dalam tulisan ini, saya akan membahas pentingnya mental health di masa sekarang, terutama
bagi Generation Z yang diikuti dengan
bagaimana solusi maupun tips-tips untuk menjaga mental health.
Tahun 2020 adalah tahun yang penuh dengan kejutan dan yang terbesar
ialah Pandemi Covid-19. Rasa khawatir dan takut akan kondisi saat ini merupakan
respon yang sangat wajar dan dimengerti. Berdasarkan Business Insider, pandemi
ini sangat berpengaruh pada kondisi mental
health Gen Z menurut beberapa studi. Gen Z saat ini berhadapan dengan
stres, kekhawatiran, dan depresi bahkan sebelum global health crisis karena dalam beberapa waktu terakhir, banyak
berita yang sangat mengejutkan, berita penembakan masal, deportasi, dan
meningkatnya kasus bunuh diri.
Saya sempat menyinggung tentang Generation
Z dan masa sekarang (2020) pada paragraf pertama. Ada baiknya, sebelum
melanjutkan pembahasan, ada baiknya jika kita mengenal siapa saja yang termasuk
Genreation Z dan apa saja
karakteristik generasi tersebut, serta kondisi seperti apa yang sedang dialami
pada tahun 2020. Dilansir pada laman Pew Research Center, Generation Z hanyalah salah satu golongan dari beberapa generasi lainnya.
Generasi lainnya ialah generasi-generasi sebelum Generasi Z. Mereka ialah millennials (usia 24-39) yang lahir
setelah Great Recession, generation X (usia 40-55), baby boomer (usia 56-74), dan silent generation (usia 75-92). Tapi dalam esai ini, saya tidak
berfokus pada keempat generasi tersebut. Generation
Z sendiri merupakan generasi yang lahir di atas tahun 1996. Pada tahun
silam, generasi Z ini sedang dalam masa pendewasaan.
Generasi Z cukup mirip dengan generasi sebelumnya, generasi milenial.
Hanya saja, generasi Z lahir dalam masa teknologi dan ilmu pengetahuan yang
jauh lebih berkembang dibandingkan millennials.
Selain itu, generasi Z merupakan generasi yang paling beragam dalam etnik dan
ras serta generasi yang akan menjadi generasi paling terdidik. Generasi ini
juga dapat dibilang generasi yang sangat ekspresif. Kaum Z juga melihat
keluarga dan perubahan sosial sebagai hal yang baik.
Generasi Z dalam hal teknologi menjadi generasi yang hampir selalu
aktif di social media. Beberapa
peneliti dari Pew Research Center menyatakan bahwa dengan meningkatnya jumlah
waktu yang dihabiskan generasi Z (masih menginjak masa remaja) khususnya di
media sosial, berperan dalam pertumbuhan kecemasan dan depresi. Apalagi
didukung dengan pandangan kaum Z yang beragam tentang efek positif dan negatif
media sosial bagi generasi mereka. Sebagian menyatakan social media berpengaruh positif, ada mengatakan social media berpengaruh negatif, dan
sebagian besar mengatakan media sosial tidak positif atau negatif.
Seperti yang sudah dijelaskan pada paragraf awal, generasi Z seringkali
menghabiskan waktu dengan social media
tanpa mengetahui dampak-dampak maupun apakah social media ini membawa dampak yang positif dan negatif bagi
kehidupan mereka. Apalagi di masa pandemi ini, remaja-remaja akan lebih sering
menggunakan smartphone dan media
sosial dikarenakan kurangnya interaksi sosial secara langsung. Seringkali,
remaja yang menggunakan media sosial merasa kurang puas dengan penampilan
mereka, mengingat media sosial seringkali menyoroti hal sensitif ini. Rasa
kurang puas ini jika tidak diatasi akan mengakibatkan rasa iri ketika menscroll akun sosial media yang bahkan
dilakukan hampir setiap waktu! Bukankah hal ini menjadi toxic? Media sosial yang seharusnya menjadi tempat menambah koneksi
dan mencari inspirasi menjadi ajang pamer penampilan di mana semua orang merasa
iri terhadap penampilan orang lain.
Hal lain yang menjadi efek social
media yaitu FOMO atau Fear of Mising
Out menjadi salah satu masalah mental baru yang terjadi di kalangan remaja
Z. Mereka merasa takut ketinggalan akan sesuatu yang menyenangkan. FOMO juga
menimbulkan perasaan bahwa orang lain lebih memiliki hidup yang menyenangkan
atau menjalani kehidupan yang lebih baik dibandingkan diri mereka. Padahal
mereka tidak tahu kenyataannya. Perasaan ini dapat menimbulkan kecemasan dan
berpengaruh pada rasa percaya diri seseorang serta memicu seseorang untuk
menghabiskan lebih banyak waktu menggunakan media sosial. Sesungguhnya, semakin
seseorang memprioritaskan interaksi media sosial, semakin beresiko seseorang
tersebut memperburuk mood yang dapat
mengakibatkan kecemasan dan depresi.
Mental health merupakan salah
satu aspek kehidupan yang sangat penting. Pertanyaannya adalah, mengapa itu bisa
begitu penting? Jawabannya, kondisi mental mempengaruhi kesehatan fisik. Lebih
dari itu, kesehatan mental mempengaruhi SEMUA aspek kehidupan seseorang.
Pikiran dan tubuh merupakan satu kesatuan. Jika kondisi mental seseorang sedang
drop imun tubuh juga terkena
imbasnya. Sebagai contoh, stres dan rasa kecemasan (rasa cemas berlebih) yang
pada saat ini banyak dialami oleh Generasi Z, dapat mengganggu kesehatan fisik.
Rasa khawatir memicu tubuh melepaskan hormone stres yang mempercepat detak
jantung dan pernapasan, meningkatkan gula darah, serta mengirim lebih banyak
darah ke bagian lengan dan kaki. Sejalan dengna waktu, kondisi ini dapat
mempengaruhi kinerja jantung, pembuluh darah, otot, dan sistem tubuh lainnya.
Rasa malu atau rendah diri dapat mengganggu kesehatan mental. Saat kita
merasa malu pada diri kita sendiri, kita merasa tidak normal atau rusak. Hal
ini dapat memengaruhi kemampuan kita dalam mengatasi rasa kepercayaan diri atau
ketika kita memandang rendah diri sendiri. Rasa malu ini dapat menimbulkan
perilaku yang merusak dan pada akhirnya melahirkan kemunduran diri.
Kondisi mental yang kurang sehat dapat mempengaruhi perilaku kita dalam
beraktivitas sehari-hari. Mulai dari kepercayaan diri, kontrol diri, rasa tangguh
(atau tabah) dan mampu mengatasi masalah atau tantangan, perasaan yang baik
terhadap diri sendiri, mengontrol dan mengekspresikan perasaan, serta membangun
dan menjaga hubungan yang baik dengan orang lain.
Muncul pertanyaan baru lagi setelah mengetahui dampak media sosial dan
pandemi pada remaja terkait dengan pentingnya kesehatan mental. Bagaimana
generasi Z menjaga kesehatan mentalnya di tahun 2020, masa pandemi dan remaja
sering bersosial media?
Beberapa cara yang dapat membantu mengurangi rasa stres di masa ini
antara lain, beristirahatlah dari menonton, membaca ataupun mendengar berita
tentang kasus pandemi karena hal ini dapat membangkitkan rasa kecewa dan cemas.
Menjaga kesehatan maupun kebersihan tubuh dengan cara berolahraga, mandi,
tidur, serta makan teratur menjadi salah satu cara yang tepat. Cobalah
berinteraksi ataupun mengobrol dan berbagi cerita dengan teman-teman, hal ini
dapat meringankan stres dan beban yang dialami. Selain berkomunikasi dengan
teman, beribadah juga merupakan hal yang sangat vital. Selanjutnya, lakukan
hal-hal yang disukai untuk melepaskan beban pikiran atau stress serta lawanlah
stigma-stigma yang ada dan speak up,
bahwa mental disorder perlu
ditangani. Bagaimana orang lain bisa membantu kalau penderita sendiri tidak speak up. Terakhir, syukurilah dan
sayangi diri sendiri. Siapa yang dapat menyayangi dan menghargai diri sendiri dengan
penuh, dengan thoroughly kalau tidak
dimulai dari diri sendiri.
Mental health sangat berperan
penting dalam hidup dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan jasmani. Generasi
Z yang sangat lekat dengan media sosial terutama di masa pandemi ini, perlu
memperhatikan kesehatan mentalnya. Beberapa cara untuk menjaga mental health antara lain menjaga
kesehatan dan kebersihan tubuh, menjaga komunikasi dengan teman-teman,
beribadah, dan melakukan aktivitas-aktivitas sesuai minat dan bakat. Mental health penting, kita semua tahu
itu. Tapi siapa yang tahu kondisi mental kita masing-masing? Hanya diri kita
seorang. You and your feelings are real,
speak up! Kamu pantas didengar!
⭐⭐⭐